Mengelola Bersama Taman Nasional Kerinci Seblat

Taman Nasional Kerinci Seblat menyediakan habitat bagi tumbuhan dan satwa penting, antara lain harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis), kelinci sumatera (Nesolagus netscheri), tapir asia (Tapirus indicus), padma raksasa Rafflesia arnoldii, dan cemara sumatera Taxus sumatrana, selain menyimpan sumber air untuk kebutuhan kehidupan mahluk hidup.

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menjadi salah satu dari tiga taman nasional yang masuk dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) sejak 2004 bersama dengan Taman Nasional Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Ketiga kawasan tersebut menjadi bagian dari Warisan Alam Dunia (World Heritage Site) selain Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo, dan Taman Nasional Lorentz

TNKS memiliki luas hampir 1.4 juta hektar dan berada di empat provinsi yaitu di Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatara Selatan. Kawasan ini memerlukan pengelolaan dalam melindungi keberadaan keanekaragaman hayati di dalam kawasan konservasi.

Menurut Tamen Sitorus Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat bahwa dalam proses pengelolaan, diperlukan kerjasama multipihak antara lain dengan masyarakat sekitar kawasan, lembaga adat, pemerintah lokal, LSM lokal dan internasional, serta perguruan tinggi. “Selama ini kami berkolaborasi dalam mengelola kawasan TNKS. Kondisi saat ini, di antaranya sudah tersedia data mengenai jumlah harimau dari tahun 2014 hingga 2018, informasi perburuan dan perdagangan Tumbuhan dan Satwa Lindung (TSL), perhitungan laju deforestasi hutan, dan pendataan jenis satwa dan tumbuhan penting lainnya,” jelas Tamen.

Untuk menjadikan Taman Nasional Kerinci Seblat sebagai habitat yang nyaman bagi kehidupan harimau sumatra, gajah sumatra, rangkong, raflessia, bunga bangkai dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat di tahun-tahun ke depan, maka dilakukan Konsultasi Publik Penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Kerinci Seblat Periode 2020-2029 pada Kamis (3/10/2019).

Keikutsertaan berbagai pihak dari Bappeda Provinsi, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Perwakilan Lembaga Adat, Perguruan Tinggi, Balai KSDA Provinsi, Balai GAKKUM, LSM lokal dan internasional, serta perusahaan swasta dapat membantu terwujudnya visi dan misi taman nasional. Perlindungan kawasan taman nasional juga tidak terlepas dari peran masyarakat desa yang berada di sekitar kawasan. Ada lebih kurang 146 desa yang berada di sekitar kawasan taman nasional yang ada di Jambi, 57 desa di Sumatera Barat, 105 desa di Bengkulu, dan 34 desa di Sumatera Selatan.

Menurut Amris Kahar Ketua Lembaga Adat Lekuk Lima Puluh Tumpi Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kerinci yang berjarak sekitar tiga kilometer dari kawasan taman nasional bahwa sedari nenek moyang diwariskan secara turun temurun, bahwa hutan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. “Kami dilarang untuk merusak hutan. Ada hukum adat bila melanggarnya, dan akan dibawa kepada hukum negara bila kedapatan menganggu hutan. Kami merasakan dengan tidak menganggu hutan, air masih berlimpah saat wilayah lain mengalami kekeringan,” jelas Kahar. Kahar menambahkan dengan diikutsertakannya lembaga adat dalam perencanaan pengelolaan kawasan taman nasional, masyarakat di wilayah adat juga berperan serta dalam menjaga hutan dan isinya.

Peran serta pemerintah daerah juga penting dalam pengembangan dan pemanfaatan jasa lingkungan yang ada di kawasan taman nasional.  Menurut Rusman Kepala Bidang Teknis Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, bahwa taman nasional telah melakukan perjanjian kerjasama dengan Bupati Kerinci mengenai Pengembangan Objek Wisata Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci pada Zona Pemanfaatan.

“Perjanjian ini bertujuan untuk meningkatkan pengembangan objek wisata, serta mendukung pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi daerah Kabupaten Kerinci melalui pengembangan pariwisata alam,” jelas Rusman. Rusman menambahkan bahwa diharapkan selama rencana pengelolaan pada sepuluh tahun kedepan, kawasan TNKS menjadi lebih baik sehingga dapat mempertahankan dan mengembangkan potensi yang ada di dalam kawasan, sehingga mendukung kelestarian ekosistem TNKS.

(Fransisca Noni, peneliti Fauna & Flora International)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *